Chewing Gum

bukan properti aku
*** mengenang masa itu
Kira-kira saat masih usia lima tahun aku dikenalkan permen karet oleh Alm. Kakak –pertama-- Ku. Dia menawarkan padaku dan mengajariku bermain menggelembungkan permen karet biar menjadi sebuah balon mungil. “Jangan ditelan ya”, katanya. *memperingatkanku

Pertama kali coba, aku berhasil memuntahkan permen karet keluar dari mulut ku. Haha…
Sejak itu, aku tak putus arang dan ngak nangis, aku belajar sendiri. Alhasil kini aku bisa, meskipun asal-asal saja versi aku sendiri dalam mengunyah, tidak sesuai dengan standar Kesehatan Internasional. *memang ada peraturan semacam itu?

Saya Tidak Melempar Koin

Lempar koin mu? Kamu pilih gambar apa? 
“Aku suka Komodo.”
“Aku Garuda saja.”
cetus beberapa pelaku


Dimainkanlah koin itu. Diputar atau dilempar ke atas dengan berbagai variasi sesuai keahlian. Sehingga koin berputar. Dan kita menebak dan menunggu apa yang akan terjadi selama beberapa detik saat koin jatuh dan berhenti.

Tentu saya masih ingat! Saat masih di taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, apalagi bagi mahasiswa sampai dosen. Sering saya lihat mereka bermain tebak lempar koin bersama temannya. Buat iseng mengisi waktu canda. Tidak aku pungkiri lagi permainan tradisional semacam itu masih menjadi trend sampai saat ini, bahkan tanpa melihat status bagi pelakunya.

Bahkan ada teman bermodal,...

Need You by My Side

Tak sengaja membaca status itu.. *geli sendiri, aku mendengarnya..
Kurang lebih seperti itu..
Entah apa yang ada dibenaknya? Aku pun tak tahu, hihi..
Mungkin dia baru dilanda banjir. Mungkin saja, Hiiaaa…


 Andai saja pesan itu terjatuh di kepala ku
Mungkin aku akan mendadak pingsang
Terkapar saat membaca pesannya 
*kasihan bener, ngaaakk, hiks hiks..

Akan kah pesan itu....

Hoax.. Hentikan!!

"Bukan ilmu namanya, kalau tak ada pesan bermanfaat bagi orang lain“

by shutterstock
Apa yang ada dipikiranmu? Apa sekedar lelucon! Biar heboh, terkenal, dipuja-puja, dikagumi, disanjung atau hanya mengumbar berita dekil, kabar konyol semata.

Hoax,.. Hoax lagi, lagi-lagi Hoax! Hoax booming again../:n

Hoax bisa dibilang kabar tak jelas atau berita rekayasa, mengada-ada *palsu-- konyol. Berupaya menipu pembaca supaya mempercayainya. Padahal sang pencipta *pembuat hoax* tahu bahwa berita itu adalah bohong.
*--Hati-hati dengan berita tanpa ada kejelasan dan ketahui dahulu dari mana asal sumbernya…--*

Hai sahabat, hoax budaya mana? Pikirkan sekali lagi…
Asalnya dari mana? Tak jelas..
Apa ada tuntunan islam tentang hoax? Coba renungkan..

Hmm... Jadi penasaran,.. Simak lebih lanjut yuukk...

Hore,.. Terlalu Girang…

Pagi cerah ini membuatku girang, bukan ampun minta,.. >__<'

bukan milik aku
Tepatnya sekitar pukul 07.38 WIB berlokasi di kursi kerja ku. Aku cuma mengabarkan saja, kalo aku “dapet arisan” pagi ini, itu saja. Sederhana bukan? Hihihi...

Tiap sabtu pagi-pagi di kantor diadakan arisan mungil-mungilan. Agenda tersebut sudah berjalan beberapa pekan terakhir. Tak perlu ku hitung-hitung berapa nominal yang telah ku dapat. Terlebih aku harus mengasok arisan sabtu-sabtu depannya, lantaran arisan baru melaju 5 kali (kalo ngak salah) dari 30 putaran. Hahaha -masih lama-.. Terpenting lagi, Alhamdulillah income bertambah lagi, -menghibur diri-. Huick, hihihi… *bukan sombong

Berita itu, langsung aku laporkan via sms pertama kali pada:

Pohon Pelipur Lara

Aku menemukan burung jatuh saat aku terduduk melamun berteman diiringi pohon pelipur lara. Sebelah sayap burung itu tak bisa bergiat, ternyata luka kena tembak telah merobeh sebelah sayapnya. Lantas aku kawai burung itu, ku obati, kurawat, hingga aku buatkan sangkar, dan ku beri makan setiap hari.

Luka yang telah berlalu beberapa hari membuatnya perlahan mampu mengepakkan sayap-sayapnya lagi. Aku keheranan saat ia mengicaukan suara kicauannya, pertanda ia burung jantan dan sudah sehat memanggil-manggilku, menyapaku dalam lamunan kelabu.

Burung itu menghiburku dengan kicau merdunya sampai ku hampiri suara itu, bahkan ia tidak menghentikan suara ocehannya. Memamerkan suara merdu dan semakin keras mempertontonkan kepadaku. Ya, aku terhibur oleh lamunan panjang ku.

Mahar Ku adalah Islam Mu

Begitulah sebait ungkapan dari Ummu Sulaim Binti Milhan, "Mahar Ku adalah Islam Mu".
Bila saja seorang wanita islam kini, bilang begitu pada calon pasangan -calon suami-.
 
~~karikatur yang bikin, bukan aku~~
Bisa jadi beberapa kaum adam penghuni bumi ini akan meredup, mengerut mendekati wanita itu, bila tidak dilengkapi rasa iman sejati. Bahkan bisa-bisa mandi keringat di tempat, hoho..

Wajah maskulin-nya saat akan melamar Bidadari pujaan hati, akan menjadi pudar, surut menciut mungkin kali ya. Ketika mendengar ajuan balasan tersebut pada seorang kaum pejantan, hihi..

Anak muda kini tuh, lebih gampang cari “UANG”, daripada cari “ISLAM”, katanya sich. Berapa sih jumlah anak muda yang “ISLAM” Beneran?

Diam Mu, Melumpuhkan Ku

Semenjak itu,..
Ketika dipertemukan dalam sebuah kajian
Terjalin sanubari antara aku dan dia
Menalar menusuk dinding nurani
Seakan-akan hati ikut bertasbih

Terkadang, aku merasa ada ketakutan tersendiri saat berhadapan bersama diam mu. Why,... What's wrong with you? Because,… Diam mu adalah simbol kemuliaan, kesucian dalam diri, kelembutan santun, natural, keagungan yang tak sanggup terlukiskan oleh alunan melodi “cetar membahana”, waduuh.

Hargailah Karya Orang Lain…



“Mmm… Aku kurang suka sama penelitian dia?” /Hoo..o, aku juga,…
“Analisis dia juga ngak professional… $%$*& !!!
“Ah, baru jadi karyawan di perusahaan terkenal aja, dia dah sombong minta ampun”
“Katanya, dia itu,…. Nang neng nong neng gung lho?” Ohya,.. Benar kah?
“Masa tulisan kaya gitu di bilang bagus, emang kau tak bisa baca ya” waddduuuhh.. *malah repoot sendiri..

Sulit memang, memang sulit!!! Bagi yang belum tahu bagaimana menghadapi masalah seperti diatas. Adanya hanya mengkriting orang lain, kritik-iri-dengki maksudnya.

Memories in Paris




Sore itu,….
Kulihat lautan biru diluasnya lepas pandanganku.
Semilir bersama percikan pasir mengalun mengikuti arus 
Hembusan anging yang menyapu wajahku yang setengah dalam lamunan
Gelombang yang menyapa hatiku untuk sebuah hati yang sendiri…

Kupejamkan nurani dan sejenak ku berkata:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...